Abstrak Penelitian
Peningkatan penggunaan internet telah menyebabkan kompleksitas lalu lintas jaringan yang membutuhkan manajemen bandwidth yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja dua metode manajemen bandwidth, yaitu Hierarchical Token Bucket (HTB) dan Class-Based Queue (CBQ) pada implementasi Linux Server. Metodologi yang diterapkan adalah dengan mengonfigurasi kedua metode tersebut pada lingkungan pengujian yang terdiri dari delapan client dengan variasi bandwidth dari 1 Mbps hingga 10 Mbps. Pengukuran Quality of Service (QoS) dilakukan dengan parameter latency, jitter, throughput, dan packet loss, dengan masing-masing parameter diukur melalui 10 kali percobaan pada setiap client. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode HTB memberikan kinerja yang lebih unggul dibandingkan metode CBQ pada tiga parameter QoS. Pada parameter latency, HTB mencatatkan nilai 23,71 ms sedangkan CBQ 24,03 ms. Untuk parameter jitter, HTB menghasilkan nilai 34,35 ms sementara CBQ 41,38 ms. Pada pengukuran throughput, HTB mencapai 5.583,541 Mbps dibandingkan CBQ dengan 5499,274 Mbps. Kedua metode menunjukkan keandalan yang sama dalam hal packet loss, yakni 0% pada semua pengujian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode HTB lebih direkomendasikan untuk implementasi manajemen bandwidth pada jaringan server karena konsistensi keunggulannya dalam mengurangi latency, meminimalkan jitter, dan memaksimalkan throughput, sehingga lebih optimal untuk aplikasi yang membutuhkan respons cepat dan stabilitas transmisi data.
Kata Kunci (Keywords)
Manajemen Bandwidth
Hierarchical Token Bucket (HTB)
Class-Based Queue (CBQ)
Quality of Service (QoS)
Preview Dokumen
Login untuk Unduh
Hal:
0
/
0
130%
Klik tombol "Lihat Preview PDF" untuk memuat dokumen.
File akan dimuat saat user klik preview PDF.