Abstrak Penelitian
Realitas Virtual (Virtual Reality/VR) dan pemodelan 3D telah menjadi instrumen yang kian efektif dalam beragam ranah, seperti edukasi, arsitektur, dan warisan budaya. Museum, sebagai institusi, tidak lagi sekadar berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan pameran koleksi serta karya seni, melainkan juga memanfaatkan teknologi ini untuk menyajikan cara baru dalam mengomunikasikan seni dan sejarah kepada khalayak pengunjung. Penelitian ini bertujuan menyajikan hasil awal dari alur kerja yang diusulkan guna menonjolkan dan menginterpretasi peristiwa bersejarah melalui pengalaman VR yang imersif dan interaktif dengan melibatkan berbagai indra pengguna. Metode Pelacakan Jalur (Path Following) digunakan untuk menetapkan pergerakan model elang terbang sesuai lintasannya dalam lingkungan virtual. Jalur ini dikonstruksi berdasarkan nilai titik kontrol yang telah ditetapkan, yaitu (-17.4528, 0.0000, 5.0498), (-7.2944, 0.0000, 0.0000), dan
(9.5367, 0.0000, 0.0000). Titik-titik kontrol ini merepresentasikan lintasan yang harus diikuti oleh model elang demi memastikan gerakan yang realistis dan selaras dengan skenario yang dirancang. Model 3D yang detail turut digunakan untuk memperdalam rasa keterlibatan (immersion) dalam pengalaman VR. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa dengan melibatkan berbagai indra, termasuk indra peraba (haptika), dan manipulasi visual dalam lingkungan 3D yang imersif, persepsi realisme visual dapat ditingkatkan secara efektif. Peningkatan ini membangkitkan rasa kehadiran (sense of presence) yang lebih kuat serta memperkuat pengalaman edukatif dan informatif di museum. Melalui pendekatan ini, sejarah dapat disampaikan secara lebih menarik, mempermudah generasi muda untuk memahami dan mengapresiasi warisan budaya yang ada.
(9.5367, 0.0000, 0.0000). Titik-titik kontrol ini merepresentasikan lintasan yang harus diikuti oleh model elang demi memastikan gerakan yang realistis dan selaras dengan skenario yang dirancang. Model 3D yang detail turut digunakan untuk memperdalam rasa keterlibatan (immersion) dalam pengalaman VR. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa dengan melibatkan berbagai indra, termasuk indra peraba (haptika), dan manipulasi visual dalam lingkungan 3D yang imersif, persepsi realisme visual dapat ditingkatkan secara efektif. Peningkatan ini membangkitkan rasa kehadiran (sense of presence) yang lebih kuat serta memperkuat pengalaman edukatif dan informatif di museum. Melalui pendekatan ini, sejarah dapat disampaikan secara lebih menarik, mempermudah generasi muda untuk memahami dan mengapresiasi warisan budaya yang ada.
Kata Kunci (Keywords)
Virtual Reality
Cultural Heritage
Following Path
Haptika
Sejarah
Preview Dokumen
Login untuk Unduh
Hal:
0
/
0
130%
Klik tombol "Lihat Preview PDF" untuk memuat dokumen.
File akan dimuat saat user klik preview PDF.